Membadong bayi

Tujuan utama membedong selain untuk menjaga kehangatan tubuh bayi, juga agar bayi dapat tidur tenang karena sampai usia 6 bulan, bayi masih mengalami refleks kaget (MORO). Dengan dibedong, saat refleks MORO terjadi, bayi akan merasa seperti ada yang memeluk sehingga bisa tertidur kembali atau tidak terkaget-kaget. Selain itu, pemakaian bedong juga mengurangi resiko terjadinya SID (Sudden Infant Death) atau kematian mendadak pada bayi saat tidur.

Dibedong anak bayi itu justru lebih banyak manfaatnya. Yang saya tidak setuju adalah membedong yang terlalu kuat, karena ini yang akan membuat si bayi sesak napas dan juga memengaruhi peredaran darah bayi. Terkadang, saya hanya melakukan ‘setengah bedong’ yaitu membedong dari dada sampai kaki, sementara tangannya bebas terbuka.

Di rumah sakit, bahkan di Singapura, pembedongan bayi (swaddle) tetap ada, tapi hanya untuk menyelimuti bayi saja, tidak ketat. Satu hal yang termasuk dalam mitos adalah keyakinan bahwa bedong dapat meluruskan kaki bayi, ini jelas tidak benar. Pada awal kelahiran, kaki bayi memang memiliki kecendurangan bengkok karena posisi bayi di dalam kandungan. Setelah lahir, kondisi kakinya yang bengkok ini akan lurus dengan sendirinya seiring pertambahan usia. Terbukti, pada kedua anak saya, kakinya lurus sendiri seiring dengan bertambahnya usia, walaupun hanya dibedong ‘asal-asalan’ saja.

Oh ya, berhubung kita tinggal di wilayah tropis, pilihlah bedong dengan kain yang tipis dan nyaman, supaya si kecil tidak kepanasan.